Arsip Tag: jepang

Tips n Tricks Study Abroad (Jepang) #1:Biaya

Haloo!! Kali ini saya mau membagi pengalaman nih, persiapan (biaya) apa aja sih yang penting sebelum kuliah di luar negeri. Lebih spesifiknya di Jepang yah, atau lebih spesifiknya lagi di Kanazawa, Ishikawa, salah satu daerah (desa, wkwk) yang terletak agak utara sedikit dari Kansai area. Jadi mungkin untuk daerah lain agak beda, karena Kanazawa itu kota yang agak “desa”, yang biaya hidupnya relatif lebih murah daripada di Tokyo, Osaka, Nagoya, dan kota besar lainnya..

Okayy kita mulai aja yahh..

Hal pertama terkait biaya yang perlu kita siapkan adalah *jengjengjeng* Beasiswa!! Wkwk. Pastikan kamu udah punya kejelasan beasiswa sebelum berangkat ke Jepang, entah itu dari Pemerintah Indonesia, pemerintah Jepang, kampus, orang tua, tabungan pribadi, atau support dari manapun hehe. Beasiswa (atau support) kuliah saja, atau dengan beasiswa hidup. Intinya kita udah harus tau kira2 berapa biaya yang akan kita dapat, berapa yg kurang, dan berapa yang akan lebih. Hehe. Kalau dulu kebetulan saya ikutan program yang udah free institution fee, dan dapet beasiswa hidup sebesar 80.000 JPY .

Kedua: Tiket pesawat. Buat yang beasiswanya ga termasuk tiket pesawat, saran saya cari tiket promo sejak beberapa bulan sebelumnya. Tips saya sih, pantengin terus web maskapai inceran kamu, atau minta tolong temen yang bisnisnya terkait travel-travel-an. Pas lagi promo, langsung booking. Tapi sebelumnya pastikan dulu tanggal keberangkatan kamu. Karena biasanya kalau tiket promo itu ga bisa dibatalkan atau ubah jadwal (bisa sih, tapi jadinya hangus tiketnya, kan sayang)

Ketiga: Pantau terus rate penukaran uang, IDR to JPY. Ini cukup berguna (bangeeet) loh! Misalkan kita perlu persiapan bawa 100.000JPY, perbedaan kurs 10 rupiah aja (misal 1 JPY = 120 rupiah dengan 1 JPY = 110 rupiah) bisa jadi beda 1 juta rupiah loh!

Keempat: Perhitungan biaya hidup. Penting nih! Biasanya biaya awal kedatangan tuh besar, karena banyak hal yang harus diurus. Saya cerita pengalaman saya aja ya, mudah-mudahan bisa diadopsi ke kasus (kasus?) kalian. Wkwk.

Dulu saya tinggal di asrama kampus, yang harga sewa per-kamar nya relatif lebih murah daripada sewa aparto (apartment). Kelemahannya, ga bisa bawa keluarga (bagi yg udah berkeluarga ya, haha), rata2 dapurnya nyampur (dapur bersama), mesin cuci nyampur, dan bahkan ada yg kamar mandi nya nyampur (cem cem kosan gitu lah, tp tenang, cewe-cowo tetep dipisah kok *yaiyalah* wkwk). Kelebihannya, suka banyak kegiatan menarik dan gratis, bisa kenalan sama tetangga kamar dari berbagai negara (rata-rata china sih haha), beberapa fasilitas udah tersedia (mesin cuci, kompor, kulkas, lemari, kasur), dan murah tentunya. Kalau apato, kelebihannya bisa lebih bebas, lebih privasi, bisa bawa keluarga, atau kalau punya temen yang mau diajak tinggal bareng bisa jadi lebih murah juga. Oiya, di Jepang itu ada beberapa jenis apato. Ada yang buat single, ada yg buat keluarga. Kalo apato single ga boleh ditinggali oleh lebih dari 1 orang. Nah, asrama saya dulu sebulannya sekitar 25.000 JPY (belum termasuk listrik, air, internet). Di bulan pertama, dulu saya harus bayar tarif untuk 2 bulan (1 bulan untuk biaya bulanan, 1 lagi buat semacam tarif bersih2 gitu kali ya *lupa, wkwk*. Di asrama lain disebutnya deposit, dan akan dikembalikan di bulan terakhir, dengan syarat semua fasilitas ga ada yg rusak.

Tagihan listrik dan air rata2 sekitar 5-9ribu JPY, tergantung musim. Waktu pertama saya dateng dulu pas musim semi, suhunya relatif dingin (dibanding bandung), jadi pemanas ruangannya agak sering hidup. Tapi karena baru dateng dan uangnya masih pas-pasan (beasiswa belum turun, wkwk), jadi semangat untuk menghematnya tinggi. Walhasil, sebisa mungkin pemanas ga dinyalain, sering2 main ke kamar orang *curang, wkwk*, atau lama-lamain di kampusnya. Jadi nyampe ke kamar tinggal bobo aja, masuk ke futon (selimut yg kayak punyanya doraemon itu loh), haha.

Kebutuhan yang penting-ga penting: Internet. Haha. Ini optional banget sih. Tarif per bulannya 3 ribu JPY, unlimited. Kalo dulu saya butuh internet buat ngehubungin keluarga yang ada di Indonesia. Karena belum punya HP (hp Indo konon katanya ga bisa dipake buat kartu disana, beda range frekuensi ceunah. Tapi ga saya coba sih, karena waktu itu saya ga nemu orang/tempat manapun yg jual kartu sim doang, haha), jadi saya merasa internet di kamar asrama itu penting. Yaaaa walaupun ada wifi di kampus, kan agak ga enak juga nelpon keluarga di lingkungan kampus, nanti ketahuan kayak gimana manjanya wkwkwk..

Biaya makan. Ini agak sulit nih rinciannya. Tapi kurang lebih, dulu saya menghabiskan sebesar 5-8 ribu JPY per bulan untuk makan wajib (diluar jajan snack), masak sendiri, makan siang di kampus bawa bekal, bukan makan di kantin. Kalau kamu lebih suka beli makan jadi daripada masak, bakal lebih besar lagi pengeluarannya. Sebagai gambaran, sekali makan di kantin sekitar 200-400 JPY (atau lebih) , tergantung jenis dan banyak makanannya. Jadi perbulannya bisa hitung sendiri yah..

Kelima: Hand phone. Ini juga termasuk kebutuhan penting-ga penting sih. Kalau di kosan (asrama) udah ada internet, di kampus pasti ada internet, HP nya tinggal connect pake wifi aja kan.. Tapi kalau butuh nomer HP supaya gampang komunikasi dengan siapapun dan dimanapun (termasuk tutor yg orang Jepang, atau sensei *jarang sih kalo ini*), butuh nomer HP kayaknya. Terlebih lagi, disana ga bisa beli sim card nya aja, harus kontrak sama merk HP tertentu, dan sistemnya pasca bayar, bukan pra bayar. Selain itu juga, kadang HP dibutuhkan untuk buka tabungan. Dulu saya diminta nomer HP untuk buka tabungan. Sedangkan untuk buka tabungan itu perlu data2 pribadi, termasuk nomer HP,  haha *lingkaran setan*. Tapi tenang2, buat buka tabungan bisa pinjem nomer hp teman/tutor/tetangga(?) dulu, baru nanti diganti (ga diganti jg gapapa sih sebenernya, asal ga bikin masalah, hehe). Kalau dulu sih saya beli HP karena suka jalan-jalan keliling kota. Jadi butuh map buat petunjuk arah, dan aplikasi translate tulisan Jepang. Bisa sih pakai map dan translate offline, tapi hp saya yang lama ga kuat, hehe. Alhasil saya beli hp baru (+sim card nya tentunya)  supaya bisa online kapanpun dimanapun. Budgetnya sekitar 25 ribu JPY. Tiap bulan akan ada tagihan paket internet HP, telpon dan sms yang digunakan beserta tarif dasarnya. Dulu saya pake paket internet 7gb/hari, tarif per bulannya sekitar 7ribu JPY. Untuk telpon dan sms, gratis ke sesama provider, jadi ya biasanya kena biaya buat paket internet aja.

Kurang lebih itu sih pengeluaran untuk di awal kedatangan. Kurang lebih totalnya 80-100 ribu JPY untuk bulan pertama. Untuk bulan selanjutnya biasanya lebih kecil karena tinggal mengurus kebutuhan pokok aja (asrama, listrik, air, paket internet, dan makan)..

Jangan lupa juga buat nabung kalau mau jalan2 keluar kota (mumpung di Jepang nih, siapa tau mau main ke Tokyo atau Osaka, atau daerah lainnya). Budget buat jalan-jalan lumayan gede juga soalnya. Atau kalau ga suka jalan2, uangnya mau ditabung buat masa depan juga bisa. Dulu saya bisa nyisihin 10-20 ribu JPY tiap bulan buat nabung (walaupun akhirnya kepake sebagian buat jalan2 di tengah tahun, hehe), dan masih kelihatan suka jajan kalau kata orang-orang, haha..

Oh iya ketinggalan 1 lagi. Biasanya pendatang baru butuh perlengkapan rumah tangga, seperti wajan, panci, rice cooker, piring, gelas, futon, jemuran baju, sepeda, dll kan ya? Dulu saya sebelum datang, sempet menghubungi PPI disana, dan dapet hampir semua barang itu dari mahasiswa Indo yang udah selesai study-nya dan mau pulang dalam waktu dekat. Soalnya mahasiswa2 disana biasanya masa studi-nya cuma 1-3 tahun, trus selesai dan pulang. Jadi barang-barangnya masih terhitung bagus.

Membangun silaturahim dengan sesama anggota PPI selama disana itu sangat menguntungkan lho! Waktu saya baru sampai di Kanazawa, dijemput sama mahasiswa Indo disana, yang anggota PPI tentunya, trus diantar ke asrama, diajarin cara naik dan bayar bis, dan dijamu makan gratisss. 😂 haha.

Oh iya, sebelum lanjut kuliah saya juga sempet mikir, mending cari kerja atau lanjut kuliah (kalau cari jodoh mah ga usah ditanya ya, udah masuk dalam rencana itu mah, rangkaiannya paralel dengan kehidupan yg lain, bukan seri wkwk). Dulu pengennya ga mau ngebebanin orang tua lagi dan punya penghasilan. Tapi kalau kerja masih ga kebayang, dan pengennya nikah aja daripada kerja *eh katanya paralel* haha. Karena jodoh yg ga kunjung ketemu, akhirnya saya memutuskan lanjut kuliah aja, nyari yang full beasiswa. *eh kenapa jadi curhat? :p* Tapi ternyata setelah dijalani, karena ada beasiswa hidup pas di Jepang, yang ternyata bisa ditabung, walhasil bisa dianggap saya punya penghasilan *cieeee*. Ga penting ya ceritanya haha. Tapi gara2 itu jadi bisa menghapus kegalauan awal saya, kerja atau lanjut kuliah. Toh sama-sama dapet “penghasilan”, pengalaman, dan teman baru. Ceritanya ga nyanbung ih sama topik awal. Maapin haha.

Terakhir,  semangat ya yang mau study abroad! Semoga sukses!

Study Abroad: from unenthusiastic to be addicted #day4

Study abroad. Who doesn’t want to study abroad? Some people maybe will think twice about study abroad, like me 8 years ago. But many people would like to study abroad, I think. Why? Because, you can see another life, weather (maybe), culture, thought, and another things if you going abroad. Come on, the world is really wide (not as wide as the universe of course). Isn’t this interesting if you can go around the world? I prefer going around the world to study. Once you oaring, two or three island will be reached (that is an Indonesian proverb). 😀

Do you know? My country is so comfortable. There is neither winter nor summer season. There is just rainy and sunny season. The Sun is rise and set on same average-time, all days in a year. Everywhere and every time you can find the garden or tree or at least the grass. Almost all of province has a beaches and mountains. There are so many beaches with various sand colors or type. If you like to hiking, there are so many mountains with various altitudes, panoramas, and craters. Also with this condition, there are so many kinds of animals. This country is like a heaven. Soooooo comfortable. This is Indonesia. The country over the equator. Ah I was remember the lyric of the song by Koes Ploes (the group band from Indonesia) that famous on ‘90 era.

“Bukan lautan, hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu. Tiada badai tiada ombak kau temui. Ikan dan udang menghampiri dirimu. Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.“

OK, let me try to translate it.

“This is not ocean, but milk-pond. Hook and net are enough to give you a life. You neither meet a storm nor wave, but fish and shrimp come close to you. The people say our land is a heaven. Stick and rock can be plants. Said the people our land is a heaven. Stick and rock can be plants.”

Hey hey, are we going to talk about study abroad? Why you tell me about how comfortable your country?

Haha, keep calm bro. the thing that I want to say is, although my country is really comfortable, I still want to see the other countries, the other cities. I want to see the snow, aurora, penguins –the funniest animal I ever ever ever seen (in the TV of course :p), and everything else. The neighbor grass is look more interesting than mine, right? (that is an Indonesian proverb again) Haha..

Study abroad is another way to going around the world. The people say, Europe and America have the best institution for study. That’s a chance too, right? You will see the world wide with the thoughts of them. Really fun, right?

Eight years ago, I had uninterested to going abroad. Four years ago, I start curious about that. Two years ago I have experience about that. And now I want more, hahaha.. :p

Two years ago my lecturer offered me to participated winter school at NAOJ (National Astronomical Observatory of Japan) Tokyo, Japan. Winter, yeah winter. I hope can see a snow there. See my story there. This year, my lecturer as know as my supervisor offered me (again) to participate summer internship at MPIA (Max Planck Institute fur Astronomie), Heidelberg, Germany, and (or) summer school at Leiden Observatory, Netherlands. My application has been sent. I really really hope I can join the internship at Germany because the offered topic is so interesting. They offered the similar topic with my bachelor thesis. I feel really excited. That’s amazing, right?

But there is summer right? That will be hot right? *sigh*But I think there is a chance to see an aurora, can I? I am not so sure because the Germany latitude not high enough to see an aurora. But still, I want to join this internship. Really really really want :D. The announcement of participant will come out on the beginning of March. God, pleeeeaaasseee.. I really want to go there..

Ikan Transparan??

Ilmuwan Jepang Kembangkan Ikan Mas Transparan

Transparan: Yutaka Tamaru, seorang profesor biologi pada Universitas Mie dan timnya telah berhasil mengembangkan ikan mas transparan, yang merupakan bagian dari upaya untuk mengurangi kebutuhan laboratorium pembedahan. (AFP/Getty Images)

Setelah untuk pertama kalinya berhasil mengembangkan katak transparan, kini para peneliti Jepang telah mengembangkan ikan mas yang denyut jantungya dapat dilihat menembus sisik dan kulit lewat cahaya.

Menurut laporan Daily Mail, makhluk transparan ini merupakan bagian dari upaya untuk mengurangi kebutuhan pada saat pembedahan, yang telah menjadi semakin kontroversial, khususnya di sejumlah sekolah.

“Anda dapat melihat denyutan jantung serta beberapa organ lain karena sisik dan kulitnya tidak memiliki pigmen,” ujar Yutaka Tamaru, seorang profesor pada Departemen Ilmu Kehidupan Unversitas Mie.

“Anda tidak perlu melakukan pembedahan. Anda dapat melihat otak kecil di atas kepala ikan mas mata hitam.”

Tim yang tergabung dalam penelitian pada Universitas Mie dan Nagoya Jepang, tengah mengembangkan ‘ryukin’, ikan mas lewat pemilihan mutan penetasan ikan mas dengan warna kulit tranparan dan membiakannya secara bersama-sama.

“Memiliki ikan mas dengan warna kulit transparan merupakan kerugian bila ditaruh dalam sebuah akuarium namun ada baiknya untuk melihat bagaimana organ-organ tubuhnya dalam tiga-dimensi,” ujar Tamaru.

Ikan tersebut diharapkan dapat bertahan hidup hingga sekitar Lanjutkan membaca Ikan Transparan??

Bergerak

Seperti yang kita ketahui, orang-orang Jepang menyukai ikan segar. Tapi masalahnya, perairan lepas pantai Jepang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan rakyat Jepang selama beberapa puluh tahun saja. Jadi, untuk memenuhi kebutuhan ikan segar, suatu perusahaan ikan membuat kapal penangkap ikan yang lebih besar dan dapat berlayar lebih jauh dari sebelumnya.

Namun semakin jauh para nelayan berlayar, semakin lama pula waktu yang dibutuhkan untuk membawa ikan kembali ke daratan. Jika perjalanan ke darat mencapai beberapa hari, ikan mejadi tidak segar lagi. Konsumen pun tidak menyukai rasanya. Harga ikan di pasaran turun.

Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan ikan pun menambahkan freezer pada kapal ikan mereka. Rencananya, mereka akan menangkap ikan dan membekukan mereka seketika. Freezer akan membuat kapal mampu berlayar leih jauh dan lebih lama. Namun sayang, konsumen dapat membedakan rasa ikan segar dan ikan beku. Tentu saja, mereka tidak suka ikan beku. Ikan beku dijual lebih murah di pasaran.

Kemudian, perusahaan ikan membangun tangki penampung ikan di dalam kontainer kapal mereka. Tangki itu diisi dengan sedikit air. Ikan yang berhasil ditangkap, dimasukkan ke dalam tangki. Pada mulanya, ikan-ikan itu tetap berenang-renang di dalam tangki untuk beberapa saat lamanya. Namun tak lama kemudian, ikan-ikan itu berhenti bergerak. Lemas dan tak berdaya, namun tetap hidup.

Sayangnya, Lanjutkan membaca Bergerak