Cinta, Harapan, dan Kenyataan

Welcome to the jungle, they said. Really, hard to believe this. Now I’m twenties (23 exactly). I’m become older. Not child anymore. Now, I should have my own decisions.

Cinta, harapan, dan kenyataan.

Sulit untuk percaya, bahwa hidup, tak semudah yang dibayangkan. Tak semudah menepuk kedua tangan. Apa yang kita harapkan, apa yang kita prediksi, tidak pernah selalu terjadi, not always.

Saya yakin, dan selalu yakin, bahwa apa yang terjadi saat ini pasti adalah takdir, yang telah ditentukan sejak awal. Usaha yang kita lakukan, akan membawa kita ke arah bagian takdir mana yang akan terjadi. Begitu pula dengan “jodoh”. Haha.

Beberapa kali saya berproses, atau hanya hampir berproses untuk menemukan jodoh, namun ketika seseorang itu bukan takdir saya, sekuat apapun harapan saya, kami tidak akan dapat bersatu. Haha. Miris.

Saya ingin menikah.

Harapan ini sudah ada sejak awal masuk perguruan tinggi. Alasannya? Ingin pacaran. Saya tipe orang yang berprinsip tidak akan menodai hati dan pikiran dengan hal “pacar-pacaran” sebelum menikah. Keinginan tersebut meningkat ketika kakak tersayang –yang mana dia adalah satu-satunya saudara yang saya punya– menikah. Kakak saya laki2, yang -hampir- selalu bisa menjawab apapun pertanyaan atau masalah yang kami punya. Terpaut 2 tahun, membuat kami sangat dekat, ditambah kami selalu belajar di sekolah yang sama. Pulang-pergi sekolah-rumah selalu bersama. Main di rumah, bersama. Hingga tiba saat kakak menikah. I lost my friend. Haha, lebay sih, cuma rumah jadi sepi aja, ga ada temen cerita, dan yg bisa ditanya2, atau bahkan diandalkan, dan yang terpenting, ga ada yang bisa nganter jemput lagi. Haha

Sejak itu, keinginan untuk menikah semakin kuat. Tapi…dengan siapa?

Saya mulai menyimpan harapan pada beberapa orang. Usaha mengirimkan proposal ke guru ngaji, sudah dilakukan. Tidak hanya itu, bahkan proposal jg diterbangkan melalui perantara teman yang sudah menikah. Hasilnya? Belum waktunya.

Hingga detik ini, saya belum tau hati ini akan terpaut kemana. Beberapa kali saya kecewa karena menyimpan harapan, yang seharusnya tidak ada. Memiliki harapan itu baik, asal bukan masalah hati. Mungkin.

Patah hati itu sakit. Meski hanya harapan yang belum pernah terungkap. Saya lelah, lelah berharap untuk masalah jodoh. Mungkin saya hanya perlu bersabar sedikit lagi, hingga jodoh benar-benar datang menghampiri. Orang bilang, jodoh perlu dijemput. Kali ini, saya ingin menjadi yang dijemput. Karena setelah beberapa kali mencoba untuk menjemput, salah orang. Desperate.

Akhir kata,

Salah seorang teman mengatakan bahwa, kita akan bertemu dengan jodoh saat level keimanan kita sama. Pasti akan ada waktunya, kelak, kita dipertemukan. Dan bukankah lebih baik ketika kita dipertemukan pada saat level keimanan kita “tinggi”, yang berarti kita memulai kehidupan baru dengan sesuatu yang baik. Maka dari itu, cukup perbaiki level keimana kita, dan berdoa agar seseorang disana juga sedang menuju level yang sama. Kemudian biarlah Allah yang mempertemukan kita dalam keadaan yang baik.

Sorry, it has been long time after I’m not posting some note in this blog. But when i really really want to write, I can’t hold to blow up my worried.

Iklan

One thought on “Cinta, Harapan, dan Kenyataan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s