Yaudahlah.. *speechless*

Bukan! Bukannya ga mau sibuk. Bukannya ga peduli sama temen-temen yang sebenernya udah punya banyak beban. Bukannya ga mau bantu, tapi seandainya aku bisa, pasti bakal aku bantu. Mungkin ini kesalahanku di awal. Aku ga bisa bagi waktu dengan baik. Aku gagal dalam perencanaan. Aku gagal ngatur waktu.

Aku pernah gagal jadi ketua divisi dalam sebuah acara yang cukup besar. Jenis acaranya adalah pameran. Ketika itu, aku memiliki empat orang anggota. Semua anggotaku berpotensi luar biasa. Tapi ketika itu, ketika awal pembentukan tim, ketika konsep harus dibuat, entah kenapa mereka semua susah dikumpulkan. Mungkin aku juga yang salah, ga bisa tegas memaksa. Aku yang ga bisa dengan tegas memberi tugas dan menagihnya. Aku yang dengan mudahnya memberi kelapangan lagi-dan-lagi. Bukannya menuntut agar pekerjaan ketika itu cepat diselesaikan.

Timeline yang telah dibuat menjadi tidak berlaku. Semuanya mundur hingga sekitar dua bulan menjelang acara dan semua barang pameran belum siap. Ditambah dengan masa-masa ujian yang membuat pengerjaan sedikit terabaikan. Akhirnya aku buat sendiri konsep pamerannya. Ketika rapat besar, berbagai usulan masuk dan aku modif konsepnya menjadi lebih sempurna. Tapi apa gunanya konsep yang luar biasa tanpa realisasi yang jelas?

Jujur, awalnya aku kecewa dengan semua anggota. Karena semua yang ditargetkan, semua barang yang seharusnya sudah dikerjakan, terlalaikan. Mungkin karena aku yang tidak berani menagihnya, aku takut kalau ternyata mereka sedang sibuk. Aku yang terlalu lemah.

Hari semakin dekat dengan acara. Untuk dekorasi, dengan konsep yang begitu luar biasa, dibutuhkan logistik yang luar biasa juga. Dekorasi yang sudah harus dipersiapkan sebelum acara, karena ketika itu kami hanya memiliki waktu satu malam untuk memasang semua bentuk dekor.

Satu malam, ya, satu malam. Malam hari, yang sudah bisa dipastikan kalau aku ga bisa ada di lokasi saat pemasangan. Padahal semua ide pemasangan ada di tanganku. Ya, aku melakukan kesalahan lagi dengan tidak jelas memberi instruksi ke perwakilan. Ketika itu, aku berharap bisa ikut ada disana. Berbagai lobi aku lakukan agar bisa ikut. Tapi akhirnya tetap saja aku tidak bisa ikut, tidak diizinkan orang tua. Ga mungkin kan kalo aku ngelawan orang tua?

Sebelum malam itu, rapat besar selalu dilakukan malam hari. Aku tak bisa ikut sampai selasai, hanya awalnya saja. Akhirnya aku diberi kesempatan untuk menyampaikan konsep di awal dan rencana-rencana yang akan dilakukan nanti. Sudah kusampaikan, tapi mungkin memang kurang jelas, kurang detail.

Dan sore sebelum pemasangan dekor itu pun datang. Ketika pendekoran ruang pameran akan dilakukan pada malam harinya. Bayangkan saja, ruangan yang cukup besar namun memiliki pintu kecil harus diisi barang-barang yang rumit dan banyak. Yang bekerja saat itu tim logistik dan tim pameran. Sore itu aku bingung harus gimana. Bingung karena ga bisa ada disana. Bingung apa yang harus aku lakukan. Bingung apa yang harus aku sampaikan ke orang-orang disana sebelum aku tinggalkan. Bingung harus cerita ke siapa. Aku bingung tingkat tinggi. Tapi mungkin salahku juga, aku ga cerita kalo aku lagi bingung.

Aku diminta untuk menuliskan timeline apa yang harus dikerjakan beserta jamnya. Tapi ketika itu ga bisa memprediksi berapa lama pemasangan ini akan selesai, dan bagaimana pemasagan yang itu, dan yang lainnya. Aku bingung. Ah, intinya aku lemah di koordinasi. Aku bukan tipe orang yang dengan mudahnya menyampaikan pendapat, pemikiran, atau apapun itu. Itu ga baik? Itu harus berubah? Oke, tapi tidak dengan secepat itu. Atau aku yang terlalu lambat? Jadi aku harus gimanaaaa?

Hari pameran pertama, aku datang, dan melihat teman-teman berada dalam kondisi belum tidur. Dan aku melihat tatapan wajah yang sinis memandangku. Awalnya aku mencoba berhusnudzan bahwa mereka hanya lelah kurang tidur. Lama-lama pandangan itu tidak berubah, dan husnudzannya melemah, aku merasa bahwa mereka marah, kesal, lelah, harus mengerjakan pekerjaan yang sulit tanpa komando, sedangkan kadiv acaranya sendiri enak-enakan tidur dirumah di kasur yang empuk. Kadiv macam apa aku ini? Jahat, ga punya hati, ga peka!

Hari kedua, dan ketiga pun berlalu. Tatapan sinis itu masih ada. Aku mencoba bertahan, menahan luapan emosi. Acara pameran selesai tiap harinya pada pukul 8 malam. Evaluasi terpusat biasanya setelah jam 9 malam, setelah acara observasi malam. Aku hanya bisa ikut hingga pukul 9, ga lebih. Aku ga bisa ikut eval terpusat. Dan di dalam hati, jauh di dalam lubuk hati yang terdalam aku ingin berteriak bahwa “SEANDAINYA BISA, AKU MAU ADA DISANA LEBIH LAMA, TAPI COBA NGERTI KEADAAN AKU!!!”. Tapi itu hanya sebatas keinginan, keinginan teriak di dalam hati. Sama sekali ga bisa keluar. Mungkin aku terlalu egois, aku ingin dimengerti tapi aku ga ngerti keadaan kalian. Maaf.

Alasanku cuma satu, karena aku sayang orang tuaku yang ada dirumah. Dan aku yakin kalian juga gitu, dan kalian akan mengatakan, “aku juga sayang, tapi tetep bisa ada disini”. Ah, entah, tapi aku hanya berpikir bahwa kesempatan aku untuk membahagiakan orang tua ku ga lama lagi. Dan saat ini hal yang paling membahagiakan orang tuaku adalah ketika akademikku bagus dan aku punya cukup waktu bersama mereka. Bukan sebagai anak yang pergi pagi, pulang malam atau bahkan ga pulang. Yang hanya bertemu saat solat shubuh berjamaah saja. Mungkin akan berbeda ceritanya jika aku memang kuliah jauh dari mereka, jika aku kuliah di luar kota dan mengharuskan aku tinggal dekat kampus. Wajar kan jika seorang ibu senang ketika anaknya berada di dekatnya. Sekian tahun kita diurus, dan ketika besar kita mau ninggalinnya gitu aja? Salah satu faktor aku kuliah disini, aku cari ilmu, itu buat membahagiakan orang tua. Dan aku ga mau kalo terjadi apa-apa sama mereka saat aku jauh dari mereka. Ah, pokoknya gitu lah.. terserah kalian mau ngerti ato ga. Bahkan aku ga kuat kalo mau cerita ini di depan kalian. Sekali lagi, aku bukan tipe orang yang dengan mudah cerita melankolis di depan orang.

Sejak hari itu, sejak pameran itu, orang tuaku bilang, “Put, ini yang terakhir ya, jangan sibuk-sibuk lagi. Ga usah lah jadi pengurus, tingkat tiga fokus kuliah aja. Ya?” dan dengan refleks aku bilang, “iya bu..”

Ya, aku ga bakal jadi pengurus himpunan. Aku cuma ga mau ngulangin kesalahan pas aku jadi kadiv. Aku janji ga akan ngulangin kesalahan itu lagi. Karena itu aku juga janji ga akan jadi pengurus. Walaupun aku ragu. Aku masih penasaran sama satu makhluk yang bernama himpunan itu. Aku masih mau bikin sesuatu yang bisa menginspirasi siapapun tentang astronomi dengan media makhluk itu. Aku masih sayang sama makhluk itu, tapi aku lagi sedih sama makhluk itu. Aku kecewa, terlebih sama diri aku sendiri.

Bahkan kekecewaan ini merembet ke organisasi yang lain, yang pernah aku ikuti sebelumnya. Aku terjatuh, dan lagi ga berani buat naik lagi. Aku takut untuk melakukan kesalahan. Aku takut mata sinis itu.

Maaf… Aku masih mau bantu kalian sebisaku. Jangan paksa aku pulang lebih dari jam 5 sore. Jangan paksa aku keluar rumah full di hari sabtu-ahad. Aku punya keluarga yang punya hak lebih terhadap aku dibanding kalian terhadap aku.

Aku masih punya mimpi. Tapi yasudahlah. Aku ga bisa bilang apa-apa lagi..

Mungkin cuma Allah yang ngerti aku..

 

Haha.. aku galau ya..

Harusnya semua kejadian itu bisa aku ambil hikmahnya. Harusnya, aku ga boleh putus asa. Aku harus yakin kalo aku bisa bangkit lagi. Aku harus ingat kalo semua hal yang kita lakuin di dunia ini cuma buat ibadah, cuma buat Allah.

Tapi aku malah jadi lebih sedih lagi. Aku ngerjain amanahnya ga bener. Ga total, ga maksimal, tapi aku ga tau harus gimana lagi.

Aku yakin Allah lagi ngasih pembelajaran buat aku. Huaaaah.. aku ga tau.. aku bingung..

Ya Allah..

 

 

20.11.2011

malam yang galau

Iklan

9 thoughts on “Yaudahlah.. *speechless*”

  1. ini adalah blog milik Putri Sang Pejuang!!
    ingat, Putri Sang Pejuang itukah namamu??

    Api semangat memang tak selamanya berkobar, maka dari itu izinkanlah ‘kami’ menjaganya untukmu.

    “…dan setelah kesulitan ada kemudahan”

    karena kita memang keluarga.
    🙂 SEMANGAT!!

  2. putri sang pejuang..sosok perempuan yg tegar dibalik keterbatasannya. manusiawi jika kita punya kelemahan. putri sang pejuang..jika km memahami lebih dalam makna yg terkandung dari nama tersebut, maka hatimu akan tenang dan menemukan semua solusinya, i.Allah… ^_^

  3. puuutt…. aku mampir ke blogmu…haaha
    yupz, bahkan orang Bandung sekalipun punya kegalauan nya masing masing tentang keluarganya.
    Kan kalo orang luar bandung, galau karena ga bisa pulang kalo liburan, kangen berat ama keluarganya, heheh

  4. Lucu kalau Puyu bingung gini ya. Ketawain dulu ah. hahahahahaha :))

    Tapi yang namanya anak, wajar ketika melebihkan waktunya untuk orang tua. Tau ga Put? Saya malah merasa iri sama kamu. Kamu bisa berpikir sebaik itu di usia kamu yang egonya sedang tinggi2nya untuk berorganisasi, yang sedang dikelilingi orang2 yang membakar semangat kamu untuk berorganisasi dan beraktifitas. ^_^

    Kontribusi tidak selamanya harus berada di lapangan. Setiap orang punya pos masing2, dan bersabar aja. Akan Allah tunjukkan insyaAllah pos yang sebaiknya dan seharusnya bahkan hanya Putri yang bisa mengisi. ^_^

    SEMANGAT PUTRIII!!!!… \\^0^//

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s