Ini Rasanya Jadi Ketua

Akhir Juni 2011

A: Put, jadi ketua syukwis ya?

saya: Apa? ga mau! ga bisa kak. sy mah ga bisa..

A: Ayolah put, pasti bisa kok

saya: ga bisa kak, saya diminta ga terlalu sibuk di kampus sama orang tua kak..

B: Sibuk itu pilihan put, segimana kita mengatur waktu aja..

C: Jadi ketua tuh enak put, ga kerja, suruh-suruh orang aja.. siapin aja HPnya

saya: tapi…

A: yo put, sok dipikirin dulu baik-baik. Mau dijawab kapan? tapi jangan lama-lama ya..

saya: ah.. yah.. nanti malam ya, sebelum jam 9

sore harinya

saya: kak, saya bersedia jadi ketua syukwis, tapi dengan syarat kakak harus bantu saya 100%

A: Oke

Ini tentang sebuah pengakuan. Sesuatu yang entah mengapa saya lakukan. Sesuatu yang akhirnya saya pilih karena sebuah alasan yang tak beralasan.

*aih, ngomong apa sih gw*

Ketika ditunjuk menjadi ketua, berbagai pikiran berkelebat di otak saya. Saya baru saja diperingatkan oleh ibu untuk tidak sibuk di kampus. Mungkin alasannya karena IP saya semester kemarin terjun bebas, mungkin juga karena sekarang adalah waktu liburan. Ya, liburan, maka diri saya harus memberikan hak kepada keluarga. Ga ada yang salah, dan itu wajar. Sejak kecil kita dirawat dan dibesarkan di rumah, wajar saja jika ketika belum memiliki keluarga sendiri, keluarga yang telah ada sejak kita lahir memiliki hak atas kita. Itu wajar dan tak salah sama sekali.

Tapi disamping itu, ada hal lain yang saya pikirkan. Tentang sesuatu. Atau entah saya yang berlebihan. Entah pemikiran saya yang terlalu jauh. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk menerimanya, dengan segala resiko.

Di sisi lain, Mungkin Allah sengaja memberi amanah ini, setelah saya melepaskan amanah di unit karena alasan “ga bisa sibuk”. Ada baiknya juga, dengan adanya amanah, maka waktu saya tidak banyak terbuang sia-sia. Padahal liburan kali ini saya telah merencanakan untuk menonton film-film yang menumpuk di hardisk, haha.. what a wasting time!

Hari berlalu, jadwal rapat pun kembali padat. Mulai dari mengonsep acara, dekor, persiapan arak-arakan, dan hal-hal lainnya. Saya mulai terlihat sibuk.

H-2 Syukuran Wisuda

Sampai hari ini, saya belum cerita ke ibu bahwa saya menjadi ketua syukwis. Saya takut, kalau bilang nanti dimarahin, dan disuruh melepas jabatan itu. Tapi hari ini, saya harus berani mengatakannya, karena besok harus mempersiapkan segala sesuatu untuk syukwis. Dan karena saat syukwis nanti saya akan pulang telat. Ya, di rumah saya ada aturan kalau mau pulang harus sudah ada di rumah sebelum maghrib, itu paling telat. Tapi kalau bagi saya, saya harus sudah ada di rumah setelah ashar, sekitar jam 4-5 sore. Supaya bisa bantu-bantu ibu masak, kan anak yg baik ceritanya :p

Nah, ketika saya menceritakan semuanya ke ibu, seperti yang sudah kuduga, ekspresi wajah ibu menunjukkan penolakan. Tapi ibu diam saja.

H-1

Aku pergi ke kampus dan pulang hampir maghrib, padahal dari kampus jam 3.30, prediksi sampai di rumah paling lama jam 5. Tapi hari itu super duper macet, nyampe rumah jadinya nyaris jam 6. Sedih, strategi gagal. Padahal asalnya mau pulang cepet 😦

Malamnya, ibu diam seribu bahasa. Entah kenapa, mungkin karena aku yg sibuk, atau karena diskusi sore tadi yang cukup alot? Entah..

15 Juli 2011-Syukuran Wisuda

Hari ini saatnya eksekusi. Aku berencana untuk datang ke kampus jam 9, yang berarti harus berangkat dari rumah jam 8. Pagi itu, aku telah bersiap-siap. Semua pekerjaan rumah telah aku selesaikan. Aku hanya ingin membuktikan pada ibu bahwa sesibuk apapun aku, rumah tak akan aku telantarkan, kan calon istri dan calon ibu, hehe. Tapi pagi itu, ibu masih diam, tapi udah ga seribu bahasa, tinggal sepuluh bahasa. Ibu udah mulai diajak ngobrol ketika semua pekerjaan itu selesai. Tapi waktu itu ibu bilang, “berangkatnya nanti aja..” Aku ga mau ngelawan. Jam 9 berlalu, aku melihat ibu, dan ibu bilang, nanti aja, tunggu bentar lagi biar ga kena macet. Aku mulai resah. HP terus berbubnyi, berbagai sms masuk. Jam 10 aku bilang, “bu, udah boleh pergi sekarang?” dengan wajah memelas. Dan ibu bilang, “nanti aja habis dzuhur, makan dulu di rumah”. Oh tidak! Ketika itu aku jelaskan kembali ke ibu, tentang posisiku, tentang tanggung jawabku. Akhirnya aku bisa berangkat diantarkan dengan senyuman manis ibu.. 🙂 *senangnya*

Aku sampai di kampus jam 11. Sangat telat. Di prodi sudah banyak yang datang dan bekerja. Dan aku hanya bisa mengatakan, “maaf telat”. Ah, entah kenapa, aku malas menceritakan alasan keterlambatanku itu. Hanya sedikit orang yang akan mengerti jika tak dijelaskan dari awal. (pengalaman, heu)

Hari itu berjalan dengan sangat aneh, tapi menyenangkan, karena semuanya akan segera berakhir. Kuncinya hanya dengan cara menikmatinya. Hoho.

16 Juli 2011-Arak-arakan wisuda

A: yakin masih mau ngarak? Kalau dikitan mah mending ga usah..

saya: eng..

Hari itu memang anggota yang datang sedikit. Dengan sedikit orang itu masih mau ngarak? Ketika itu saya memutuskan untuk tetap mengarak, walaupun sedikit. Karena saya pikir untuk arak-arakan ini telah dipersiapkan. Pantang bagi saya untuk mundur. Haha, dasar keras kepala :p. Akhirnya arak-arakan tetap dilakukan dengan senang pula, karena aku menikmatinya. hehe. Walaupun hujan deras, dan jadinya basah kuyup pas ngarak, gapapa lah ya. Ketika itu aku berharap teman-teman ga pada sakit. Atau kalaupun sakit ga parah dan ga lama-lama sakitnya.

Acara beres. SENANGNYA!!!!!

Aku pun pulang, jam stengah 5 dari kampus dengan masih memakai pakaian basah dari atas sampai bawah. Mau gimana lagi, jaket pun basah. 1,5jam di angkot membuatku kedinginan. haha. Sampai rumah langsung beberes diri. Ah, rasanya hangat sekali.

Jadi gini ya rasanya jadi ketua.. Rasanya tuh punya tanggung jawab yang gede banget. Asalnya aku kira emang gabut. Tapi beban pikirannya men! Ga se-gabut yang aku pikirkan. Tapi seru. Haha.. Pusing juga. Hal yang paling menyenangkan adalah ketika acaranya udah beres. Terlepas itu berhasil atau sukses. hehe.

dan pada akhirnya….

Aku merasa H* adalah sebuah keluarga baruku. Keluarga kecil bahagia. Walaupun terkadang di dalamnya ada berbagai konflik datang silih berganti, tapi ada kalanya hal itu menjadi sesuatu yang membuat kita semakin dekat. Itu yang aku rasakan. Entah apa menurutmu 🙂

Bandung, 22 Juli 2011

-ketika langit telah gelap-

Iklan

4 thoughts on “Ini Rasanya Jadi Ketua”

  1. Sebelumnya mohon maaf ya Put, testimoni buat wisudawan yg kamu minta ga jadi saya masukkan. Sedikit banyak pembatalan itu tentu berpengaruh juga ke evaluasi kinerja panitia. Mohon maaf ya.

    Jadi gitu ya rasanya jadi ketua panitia di sebuah himpunan kecil yg anggotanya udah sedikit sering susah pula disuruh ngumpul? 🙂

    Ahh, jadi kangen masa2 seperti yg kamu alami ini 😀

  2. Halo Putri,Tulisan Anda bagus sekali. Mahasiswa ITB juga kan ? Wah 🙂

    Jika berkenan meluangkan waktu dan pengalamannya, mohon bisa dibagi di web user generated http://www.masukitb.com.

    masukitb adalah tampilan kehidupan Kampus Ganesha ITB, wadah bertanya, berdiskusi, dan berinteraksi, antara para mahasiswa atau alumni ITB, dengan para pelajar yang berminat menjadi bagian dari komunitas ITB.

    Kami berharap, Anda mau berbagi dengan pelajar dari seluruh Indonesia, yang berminat masuk ITB.

    Terima kasih 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s