“Aku dan Perjalanan Mendaki”

Ada sebuah kisah tentang seorang pendaki gunung yang sedang dalam perjalanan. Sebut saja pendaki itu adalah aku. Sebuah perjuangan aku lakukan hingga pada suatu saat aku sampai di sebuah titik, sebuah bukit, sebuah harapan menuju puncak. Aku senang. Kini yang akan aku ceritakan adalah perjalanan ketika itu aku mulai berjalan lagi, menuju puncak.

Di tengah perjalanan aku melihat pemandangan yang sangat indah. Tentu saja aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku berhenti dan sejenak menikmati pemandangan. Aku melihat ada bunga yang sangat indah. Aku bertanya pada orang sekitar tentang bunga itu. Ya, aku mendapatkan ilmu baru. Ilmu baru yang menyenangkan. Aku melihat ada pohon yang indah. Aku melihat ada buah di pohon itu. Aku kembali bertanya, buah apa itu. Ternyata itu adalah buah yang sangat enak, setidaknya untuk lidahku. Aku mengambil bunga dan buah tadi. Aku menyimpannya untuk ku tunjukkan pada orang yang aku sayangi. Aku menyimpannya agar suatu saat nanti bisa aku olah dan aku manfaatkan.

Tanpa sadar hari sudah terlalu larut. Aku lupa bahwa tujuan ku adalah meneruskan perjalanan menuju puncak gunung. Dan aku menyadari bahwa aku tertinggal dari kawananku. Kemudian aku kembali meneruskan perjalanan. Entah mengapa, aku merasakan beban di pundakku terlalu berat. Ternyata karena aku yang tak ingin meninggalkan bunga dan buah– penemuanku tadi. Ah, aku mulai jalan terseok-seok, sementara teman-teman yang lain telah jauh didepan.

Aku mulai merasa lelah. Tapi aku harus terus berjalan. Tiba-tiba aku tersandung sebuah ranting. Aku terjatuh. Aku mulai lecet-lecet. Kadang aku berpikir untuk menghentikan perjalanan ini saja, atau aku buang saja beban yang memberatkan pundakku itu. Tapi aku tak mau! Bagiku, tak ada gunanya aku sampai di puncak, tapi hanya itu yang aku dapatkan. Aku ingin tetap menikmati perjalanan. Walaupun berat. Aku pun melanjutkan perjalanan. Lagi-lagi aku tersandung, dan kini aku hampir terjatuh ke sebuah jurang yang sangat dalam. Aku belum jatuh, aku sedang menggatung di akar pohon besar yang kokoh. Jika peganganku lepas, aku akan jatuh ke jurang. Sedangkan tanganku sobek terkena ranting yang tajam, kakiku juga terluka. Dan inilah keadaan ku sekarang.

Perih? Ya. Sakit? Pasti.

Inilah aku yang sekarang. Jika aku melepas tangan ku, aku akan jatuh, dan harus memulai lagi perjuangan dari awal. Tapi aku juga masih memiliki kesempatan untuk naik lagi ke atas jurang itu. Ya, kesempatan itu masih ada. Walaupun hanya 7%. Aku sempat ingin memilih untuk melepaskannya saja. Badan ini sudah terlalu lelah. Tapi aku berpikir, tentang waktu yang aku gunakan untuk mendaki. Aku takut hal itu akan menjadi sia-sia. Tentang tenaga yang telah aku keluarkan, aku takut hal itu akan menjadi hal yang mengecewakan.

Aku teringat akan sebuah tali di ranselku. Ya, itu bisa aku gunakan untuk menolong diriku. Aku teringat akan sebungkus madu di saku ku, itu bisa menjadi penambah tenagaku saat ini. setidaknya aku masih punya kedua benda itu. Aku harus berjuang. Doakan aku πŸ™‚

Cerita diatas merupakan kisah nyata yang akhirnya belum terjadi. Dan itu benar-benar kondisiku kini. Aku sedang tergantung diantara dua pilihan. Itu resikoku. Aku yang salah. Aku yang selama ini kurang pandai membagi waktu. Aku yang kurang usaha. Aku yang sedang malas.

Ini cerita tentang akademik ku. Aku akui, dari dulu grafik pencapaian nilai akademikku berbentuk sinusoidal. Bukan hal yang aneh memang. Setiap kali aku mencapai IP yang tinggi, aku menyebutnya sebuah pencapaian ke atas bukit. Setiap kali IP ku turun, aku menyebutnya aku sedang jatuh ke jurang. Kini, aku memang belum jatuh. Aku masih memiliki kesempatan untuk naik. Tapi peluang untuk jatuh itu tetap ada. Yang harus aku lakukan kini adalah menggunakan β€˜tali’ itu, berusaha sekuat mungkin. Dan β€˜meminum madu’, sebagai penambah motivasi diri yang paling baik. Tali itu adalah usaha, dan madu itu adalah kekuatan ruhiyah.

Kadang aku merasa lelah, berat, dan ingin mengakhirinya saja. Aku ingin mundur dan tak lagi menggeluti apa yang aku senangi kini. Aku biarkan saja diri ini terjatuh ke dalam jurang, toh aku bisa mengulanginya lagi nanti. Tapi ada hal lain yang membuatku memilih untuk terus berjuang. Aku teringat perkataan temanku.

“Bukan masalah nilai atau IP aja put, tapi tanggung jawab ke orang tua yang udah ngebiayain kita kuliah. Masa mau gtu aja bikin mereka kecewa?”

Ya, dia benar. Ini tentang tanggung jawab terhadap orang-orang yang telah kita buat repot. Orang tua yang membiayai kuliah. Ah, aku tak berani cerita panjang tentang orang tua, takut laptopnya rusak kerena kebanjiran air mata :p. Yang pasti, mereka ingin anaknya sukses. Dan sukses seorang mahasiswa di mata orang tua umumnya adalah dengan menggunakan indikator IP.

Bahkan bukan hanya kepada orang tua, tanggung jawab ini juga ada terhadap Sang Pencipta kita, Allah. Allah yang telah memberikan kita nikmat untuk hidup dan berpikir. Kalau nikmat itu tidak digunakan dengan sebaiknya, nanti β€œapa kata akhirat??” Aha! Ya, tak ada lagi alasan untuk mundur. Tak ada alasan untuk membiarkan diri ini terjatuh.

Aku akui, selama ini, aku kurang usaha, aku jauh dari Allah. Mungkin Dia marah, mungkin dia cemburu. Dia ingin aku kembali padanya. Ya, aku akui, aku sempat melupakan diri-Nya. Kini, saatnya aku kembali, berusaha dan berdoa. Semoga aku berhasil kembali naik keatas jurang tanpa terjatuh. πŸ™‚

To be continued..

Bandung, 13 Mei 2011

night under the glowing star

Β -Regulus Putri

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s