Sinkronisasi Hati dan Logika

Lagi buka-buka file lama di laptop, tiba-tiba nemu ini. Disimpan tanggal 17 Januari 2009. Ga jelas sumbernya dari mana, saya lupa lagi dan ga ada catetannya.. Tapi lumayan, bagus, baca deh..hehe

***
Sinkronisasi Hati dan Logika
Sunday, 19/11/2006 – 23:51 WIB
rully_sic – Renungan

Assalamualaikum….
Peu Haba Rakan Lon Mandum ???ada yang bilang…
Lelaki Berpikir dengan Logika
Sedangkan Perempuan berpikir dengan Hati
Apa benar adanya ???

Jika seorang lelaki terenyuh melihat seorang pengemis, kemudian memberikan sejumlah recehan, maka ia di sebut lelaki kewanitaan ??
Atau jika seorang perempuan mengambil keputusan untuk menginvestasikan sejumlah uangnya di pasar modal, maka ia di sebut perempuan kelaki2an ??

belum tentu 😀

Terkadang kita sendiri yang tidak bisa menentukan, setiap konteks yang melintas di Otak kita adalah sebuah konsep logika ataukah sebuah renungan hati…
Setiap Nilai2 yang tumbuh di saat kita menjalani hidup merupakan sebuah konsep penyesuaian antara Hati dan Otak. Hal ini menjadi dasar pegangan dalam hidup, yang mungkin tidak disadari penting atau tidaknya oleh Kita. Terkadang malah keputusan yang salah yang keluar, disaat kita tidak bisa menentukan keeadaan dimana kita harus mengambil keputusan berdasarkan logika atau hati….

Ada banyak konsep yang menyatakan bahwa Hati dan Logika merupakan sebuah kesatuan yang padu…Tidak pernah bisa dipisahkan…

Kenapa ???

Karena Hati dan Logika seperti roda2 yang bergerak….yang menggerakkan otak kita untuk berpikir…yang menggerakkan nafsu kita untuk keluar…yang merubah cara pandang kita terhadap hhidup dan mati, senang dan susah, kaya dan miskin, lemah dan kuat…serta beragam hal lain yang berkaitan dengan hidup…

Ketika ketika berpikir….bagaimana meng-sinkrinonisasi-kan logika dan hati ???
Anggaplah kita mempunyai sebuah Software….
Software itu bernama “Keputusan berdasarkan Keikhlasan dan Kerendahan Hati”
Kemudian kita Install…..Tepat pada Hati…..
Lalu Software Lain yang bernama “Keputusan berdasarkan Kematangan Berpikir”
Kita Install juga bersama “Kemampuan Berpikir Jernih” dan add-on nya yaitu “Tidak Mengedepankan Nafsu“, Tepat pada Logika Kita…..Maka kita akan mendapatkan sinkronisasi penuh….

Titik Sinkronisasi bisa kita cari pada Folder yang bernama “Berkeyakinan Kuat, Optimis dan Tidak Gampang Menyerah“. Dan disaat terakhir….Kita akan Klik File Eksekusinya….yang akan menjalankan semuanya. File itu akan terlihat sebagai “Berusaha dan Berserah Diri”

Secara sepintas lalu….kita mungkin akan melihat hal ini akan menjadi sangat sulit untuk dilaksanakan, akan banyak bugs, akan banyak halangan untuk mengeksekusi file tadi. Mungkin akan berkali2 muncul notifikasi bahwa kita gagal mengeksekusi file tersebut. tapi apakah berhenti ??

yang paling bijak adalah menemukan kembali root folder nya…kemudian mengulang kembali langkah2 eksekusi….adapun langkah eksekusi itu merupakan kreatifitas kita masing2, bagaimana ketelitian, kemahiran, kecakapan kita dalam memahami masalah…
Tidak ada limit waktu….selama kita masi hidup….bertahan untuk tetap hidup, atau setengah mati, maka File itu harus kita eksekusi…..Mengapa menjadi Harus ???Karena itulah makna menjadi manusia yang mempunyai kemampuan untuk berpikir, karena memiliki otak….,
mempunyai kemampuan untuk memiliki rasa, karena memiliki hati….,
mempunyai kemampuan untuk menilai baik serampangan maupun detail, karena memiliki logika berpikir…,
mempunyai kemampuan untuk melihat kedepan, karena memiliki keyakinan….,
mempunyai pola kesabaran dalam mencermati segala hal, karena derajat keikhlasan dalam berserah diri…

Maka….

Sinkronisasi Hati dan Logika akan menjadi sangat bermakna….
akan membawa kita dalam kebahagiaan…
Menikmati hidup…..dengan sangat Hidup….bukan dalam kematian…
Tidak membiarkan keputusasaan, juga sikap pesimis ketika harus berbenturan dengan kegagalan….

Kegagalan adalah proses pembelajaran dalam mematangkan diri, termasuk didalamnya kemampuan berpikir jernih…

Dan ketika kita berhasil mensinkronkan hati dan logika kita…
Maka keputusan yang kita ambil merupakan keputusan yang paling tepat bagi kehidupan kita….
Percaya atau tidak…..
Buktikan sendiri…..
Tidak ada pemaksaan…..untuk mengikuti saran2 dari saya yang Insane ini kok….:P

– – -dedicated to:kamu !!! dan Mutant yang nelpon tengah malam…
yang brhasil bikin saya sadar bahwa logika dan hati adalah kesatuan,
dan menempatkan semua pada tempatnya adalah bagian dari jawaban…
dan ketika menerima semua dengan ikhlas merupakan keberhasilan terbesar dalam hidup..!!!! – – –
***

Iklan

9 thoughts on “Sinkronisasi Hati dan Logika”

  1. apabila hati manusia tiadak ada iblis yang bercokol didalamnya , niscaya dia akan mampu melihat kerajaan langit. hati mempunyai getaran gelombang lebih besar dari pada otak tanpa batas waktu, wilayah, status sosial atau apapun karena disana ada petunjuk ALLAH s.w.t (lihat law of resonance). sedangkan otak adalah seabagai alat berpikir, menimbang dan mengingat apapun keputusan dan logika nya jangan lupa tinggalkan hati. atau dlm istilahnya jiw/jantung) trims

  2. Anggaplah kita mempunyai sebuah Software….
    Software itu bernama “Keputusan berdasarkan Keikhlasan dan Kerendahan Hati”
    Kemudian kita Install…..Tepat pada Hati…..
    Lalu Software Lain yang bernama “Keputusan berdasarkan Kematangan Berpikir”
    Kita Install juga bersama “Kemampuan Berpikir Jernih” dan add-on nya yaitu “Tidak Mengedepankan Nafsu“, Tepat pada Logika Kita…..Maka kita akan mendapatkan sinkronisasi penuh….

  3. Hati dan Logika selalu bersama, tapi tak pernah beriringan. Mereka memilih jalannya yang berbeda. Ya, sebenarnya walau mereka berjalan bersama, terkadang mereka acuh tak acuh. Tak mau bergandeng tangan, bahkan enggan menatap yang di sebelahnya. Seperti bermusuhan. Tapi keadaan menjadikan mereka satu.

  4. Hati dan Logika selalu bersama, tapi tak pernah beriringan. Mereka memilih jalannya yang berbeda. Ya, sebenarnya walau mereka berjalan bersama, terkadang mereka acuh tak acuh. Tak mau bergandeng tangan, bahkan enggan menatap yang di sebelahnya. Seperti bermusuhan. Tapi keadaan menjadikan mereka satu.

    Kadang Batin mempertemukan mereka, hanya untuk mengajak bicara. Tapi akhirnya mereka berselisih.
    Batin hanya bisa menggelengkan kepala dan memenangkan satu di antara mereka.

    Satu. Ya, cuma satu.
    Dan biasanya Hati yang berkuasa.

    Hati, ia lebih perasa. Tapi ia rapuh.
    Logika, ia memang kuat tak terkira, tapi ia tega.

    Ah, mungkin selamanya Hati dan Logika tak mampu berjalan beriringan, walau tetap harus bersama.

    Suatu hari, Hati dan Logika bertemu di persimpangan.
    Hati enggan menyapa, bahkan memalingkan muka.
    Sungguh ia tak ingin bertemu Logika yang kejam itu. Dalam pikirnya, Logika cuma satu: kejam.

    Logika menyapa, mengangkat kepalanya tinggi-tinggi seolah lupa, pertempuran kemarin, perselisihan terbesar mungkin, dimenangkan juga oleh Hati. Hati yang pulang dengan kemenangan walaupun memar sana-sini.

    Memarnya tak hilang juga.

    “Hai, Hati, apa kabarmu hari ini?”, katanya jumawa.

    “Baik”, Hati menjawab singkat.

    “Mengapa wajahmu masih biru? Masih sakitkah seperti dihujam sembilu?”, ada nada mengejek dalam setiap katanya.

    Hati hanya tersenyum dan, Logika pun jelas melihat, ada bahagia tersirat.

    “Ya. Masih memar. Tapi aku bahagia.”, ujarnya singkat.

    “Ah, dasar bodoh. Bahagia katamu? Macam bahagia karena luka-luka? Sudah gila rupanya. Apa kamu tak punya logika? Oh iya, Logika itu kan aku.”

    dan Logika pun tertawa. Keras dan masih jumawa.

    “Bilang saja aku gila. Tapi aku bahagia. Cukup untuk mengatasi setiap luka.”

    dan Hati hendak berbalik pergi.
    Tapi Logika menahannya.

    “Tunggu! Tunggu. Aku masih ingin tahu. Mengapa kau tak mengalah saja? Ketahuilah. Jika kau saat itu mengalah, lukamu tak akan parah.”, Logika akhirnya tak bisa menyembunyikan keheranannya.

    “Ya. Memang.”

    “Lalu?”

    “Memang demikian. Tapi aku tak tahu harus bagaimana bertanggung jawab pada cinta, jika aku mengalah.
    Aku tak tahu bagaimana harus menopangnya yang mungkin akan jauh lebih terluka, daripada luka yang kutanggung saat ini.”

    Logika terdiam.
    Hati terdiam.
    Dan Logika angkat suara.

    “Masih tak inginkah kau beri tempat juaramu padaku?”

    “Tidak”

    “Bilang saat kau mau.”

    “Tidak akan. Aku harap tidak akan.”

    “Baiklah”, Logika menghela nafas, “Kau mau ke mana?”

    Hati tersenyum, jauh lebih ramah dan tulus.

    “Ke sana, ke tempat yang jauh di masa nanti. Ke depan. Pokoknya bergerak maju tanpa henti.”, ujarnya dengan semangat yang mendadak hadir.

    “Aku antar.”, kata Logika.

    “Tidak,” Hati menggeleng. “Kita tetap bersama, namun selamanya kita tak beriringan. Lagipula untuk menuju ke sana ku sudah punya kawan.”

    “Siapa?”

    “Waktu.”

    “Oh.”

    “Logika, kelak kita bertemu lagi dalam pertempuran baru. Bersama Batin yang hanya sanggup menggeleng dan mengangguk, dan memilih satu. Lain waktu. Lain kali. Dan kita tak persoalkan lagi perselisihan kemarin ini.”

    “Baiklah.”

    “Dan satu lagi,” Hati menghentikan langkahnya, “Saat kita bertemu, memar ini pasti tak lagi ada.”

    “Kita lihat saja,” Logika tergelak.

    “Ah, kau kan sudah kuberi tahu aku berjalan bersama siapa.”

    “Siapa?”

    “Waktu…”

    Logika tersenyum.
    Hati juga tersenyum dan melambaikan tangannya.

    “Sampai jumpa, Logika.”

    “Sampai jumpa, Hati.”

    Dan di persimpangan itu mereka bertemu, dan di persimpangan itu mereka berpisah.

  5. makanya itu, kalo kita ingin tepat
    dalam mengambil keputusan
    kita harus mensinkronkan hati dan logika

    Hati berguna untuk membuat Keputusan berdasarkan Keikhlasan dan Kerendahan Hati, sedangkan
    Logika berguna untuk membuat Keputusan berdasarkan Kematangan Berpikir dan Tidak Mengedepankan Nafsu

    Sinkronisasi Hati dan Logika akan membuat keputusan yang paling tepat bagi kehidupan kita dan akan membawa kita dalam kebahagiaan…

    Bagaimana cara mensinkronkannya
    1. Berkeyakinan Kuat, Optimis dan Tidak Gampang Menyerah
    2. Berusaha dan Berserah Diri

    Kita harus kreatif didalam menggunakan logika dan hati tergantung dari permasalahanya

  6. Sudah merupakan kodratnya kita diciptakan Allah SWT berpasang-pasangan. Dan di antara pasang-pasangan itu ada suatu interaksi yang bersifat primer. Kita tidak dapat hidup sendirian, karana kita adalah makhluk sosial. Dan kita juga tidak dibenarkan egois, karena orang lain juga mempunyai haknya.

    Dalam interaksi-interaksi sosial khususnya antara lawan jenis, terdapat suatu proses untuk menuju suatu anugrah Allah yang sangat indah. Anugrah yang tak ternilai harganya. Anugrah yang tidak ada tandingannya. Anugrah yang membuat segala sesuatunya menjadi indah. Cinta. Yup….! Itulah cinta.

    Proses itu tergantung kepada individu yang menjalankannya. Bila kita sudah mencapai puncak proses itu, kita akan terbuai dalam singgasana cinta. Kita akan dimanjanya. Kita akan terlena dalam belaiannya.

    Perlu kita ketahui bahwasannya terdapat perbedaan prinsip yang mendasar antara laki-laki dan perempuan dalam interaksi cinta ini. Perbedaan prinsip itu sedikit banyaknya juga akan mempengaruhi interaksi tersebut. Namun itu bisa diatasi.
    Perbedaan itu adalah antara hati dan logika, perasaan dan realita. Dalam interaksinya, laki-laki biasanya lebih cenderung menggunakan logika dan melihat kepada realita. Itulah salah satu yang menyebabkan laki-laki itu jarang menangis dalam urusan cinta. Dalam urusan cinta, laki-laki selalu tegar dan bisa bersifat rasional.

    Sedangkan perempuan lebih menggunakan hati mereka yang lebut. Hati tersebut memang mempunyai benteng yang kokoh. Tapi bila sudah dapat ditembus, hati tersebut akan benar-benar tunduk. Kelembutan hati dalam urusan cinta sering membuatnya meneteskan air mata. Entah air mata bahagia maupun duka. Dan terkadang karena perasaan yang mendalam itu, lupa akan realita yang ada.

    Ini bukan pembelaan kepada laki-laki ataupun perempuan. Ini juga bukan diskriminasi antara keduanya. Tapi ini adalah kenyataan yang ada dari sekian banyak kejadian. Ini juga bukan berarti laki-laki tidak punya hati, atau perempuan tidak punya logika. Tapi ini adalah masalah dominasi. Kita tidak bisa memungkirinya. Namun tidak menutup kemungkinan juga ada di antara kita yang tidak demikian. Karena tidak semua orang sama.

  7. Ketika hati dan logika dituntut untuk serius,

    Aku berusaha untuk tidak menciut.

    Rencanaku jelas:

    Memaksakan hati untuk menunggu

    Dan membuat logika bersedia menanti.

    Tapi kemudian aku diperhadapkan pada satu fakta:

    Keduanya tidak sesabar itu.

    Harus ada keputusan.

    Harus ada tindakan.

    Harus ada hasil.

    Ini seperti momen ketika Juliet harus memilih.

    Mengalami getir bersama Romeo atau setia pada keluarganya.

    Kita semua tahu apa yang dia pilih.

    Atau ketika Bella Swan harus menentukan pilihan.

    Edward yang begitu mempesona.

    Ataukah Jacob yang bikin nyaman setengah mati.

    Meski melepas kehidupan, tapi ia bahagia pada keabadiannya yang konyol.

    Itukah yang terpenting? Kebahagiaan? Atau kebersamaan?

    Bagaikan perdebatan tiada akhir ketika aku bertanya,

    Siapa yang harus didahulukan?

    Siapa yang harus kupertahankan?

    Siapa yang harus aku perjuangkan?

    Hati atau logika?

    Aku tidak bisa persatukan keduanya.

    Setidaknya hingga saat ini.

    Mereka berada di dua kutub yang selalu berlawanan.

    Dan aku sungguh ingin mendamaikan keduanya.

    Kau tahu bagaimana caranya?

    Sebab, sampai sekarang, aku tidak.

    **Hidup adalah pilihan. Dan apa yang kau pilih akan menunjukkan siapa dirimu sebenarnya. Hooohhhhh. Jadi aku apa, terjebak dalam penantian hati? Atau berusaha memuaskan logika dan hidup standar???????

    Sederhananya, ketika aku mendahulukan hati, logika akan berontak sedemikian rupa. Tapi kalau aku pilih logika, hati bisa menangis sejadinya. Hoalahhhhhhh. Kukira akan mendapati dilema ini setelah satu tahun yang delapan bulan itu. Tapi kenapa malah sekarang??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s