Bismillahirrahmanirrahim..
Alhamdulillah, setelah sekian lama aku ga nulis di blog ini, akhirnya aku masih dikasih kesempatan juga oleh Allah untuk masih bisa berkarya. Setelah apa yang aku cita-citakan tercapai juga..
Sesuai dengan janjiku beberapa bulan yang lalu (yang hampir mencapai setahun), meneruskan tulisan “Aku pacaran???” yang sempat tertunda terus. Tapi kali ini mungkin judulnya agak beda ya, “Putri mencari Cinta”.
Kisah ini bermula ketika aku kelas 6 SD. Salah seorang temanku, sebutlah namanya VP. Di kelas, dialah perempuan tercantik. Hingga suatu ketika salah seorang temanku yang laki-laki mengatakan padanya, “aku suka kamu”. Ketika itu, aku sebagai penonton hanyalah melihat tanpa memahami apa yang dimaksudkan temanku itu. Belum mengerti. Masih terlalu lugu untuk hal yang seperti itu.
Aku pun beranjak ke SMP. Ku akui, aku pun masih sangat sangat lugu. Kelas 1, aku dikenalkan dengan sebuah kata baru, “kecengan”. Ketika itu aku sedikit dibuat bingung dengan teman-teman baruku. Pembicaraan mereka (hampir) semua tentang kecengan, atau bahkan pacar. Pernah suatu kali salah seorang temanku bertanya, “Eh, kecengan kamu siapa?”. Aku kan ga punya. Tapi mungkin karena memang sudah menjadi sifatku, ga mau kalah dan ga mau dianggap lemah. *beuh*.
Akhirnya aku jawab aja asal, “itu tu, yang itu..” (sambil nunjuk salah seorang cowo di foto kelas). Ku pikir masalah akan sampai di situ saja, ternyata temanku itu bertanya lagi, “kenapa kamu ngeceng dia?”. *ZIGH!!!* Aku kan tadi jawabnya ngasal, haduh.
Ah asal jawab lagi aja deh, “karena dia punya kumis.” Hahaha, sumpah, itu hal konyol sekali! Ah tapi sejak itu temanku yang satu ini suka sekali menggodaku sampai suatu ketika si cowo ini punya pacar.
Kelas 2 SMP, kisahnya mirip, hanya beda orang. Saat itu aku udah ga sekelas lagi sama si cowo tadi. Dan aku bertemu dengan teman baru lagi. Ah lagi lagi aku ditanya hal yang sama oleh orang yang berbeda.
Dan lagi lagi aku menjawab dengan tak sejujurnya. Yaa, aku bilang aja aku ngeceng cowo terganteng di kelas. Entah kenapa, dulu aku terlalu “gengsi” untuk sekedar mengatakan “ga punya”, atau “ga ada”. Kelas 3. Masih sedikit sama. Namun dengan pemahaman yang agak lebih baik. Aku Cuma bilang “ada deh!”. Ya memang ketika itu aku sudah mengikuti kegiatan rohis, yang membuatku bersikap sedikit lebih Jaim, jaga image..atau..jaga iman ya? Haha, ya, setidaknya pikiranku mulai terbuka. Lagi pula ketika itu aku masih bisa dibilang anak kecil yang butuh dan mudah diberi asupan gizi. *Lho???*
Masa masa SMP telah kulewati, tibalah aku di SMA. Aku mulai masuk ke komunitas yang sarat dengan makna. DKM dan KIR. Dari sana, aku sedikit banyak mengenal tentang arti kehidupan, persahabatan, dan … cinta. Aku mulai mengenal apa yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya. Baiklah, kita telusuri lagi perjalanan putri mencari cinta, di masa SMAnya. Tampaknya lebih seru dan mengejutkan.
Kelas 1, tak ada yang aneh. Kisahnya masih mirip denga cerita di SMP. Aku masih terlalu cuek dengan hal itu. Yang ada di pikiranku hanyalah sebuah obsesi, aku harus jadi yang terbaik di kelas. Pokoknya harus dapet ranking 3 besar. Yah, walaupun hal itu gagal kudapatkan, setidaknya masih 10 besar, tak mengapa.
Kelas 2. Nah, ketika ini tampaknya thalamus ku mulai bekerja dengan optimal. Aku mulai tau apa itu cinta.
Yah walaupun mungkin baru “prolog”nya aja. Entahlah, apakah itu yang benar benar dinamakan cinta. Aku belum mengerti. Ketika itu, aku sangat suka mencoba hal hal yang terlintas dalam penglihatanku yang kemudian direspon dengan baik oleh otakku. Apa yang terlihat “baru” atau sedikit “unik” akan segera ku cari tau tentang hal itu, dimana pun dan darimana pun itu. Salah satu hal yang menarik hatiku kala itu ya memang tentang pacaran. Sampai sampai aku berniat membuat riset2an (=riset boongan. Hehe), seperti yang telah aku ceritakan di artikel yang sudah pernah aku post. Selain tentang pacaran juga ada topik lain, yang biasanya jadi bahan diskusi antara aku dan orang orang yang aku anggap bisa ngejawab apa yang aku tanyain itu. Berhubung aku yang lagi punya rasa ingin tahu yang sangat tinggi, jadi ya aku banyak bertanya. Dan salah seorangnya adalah orang yang cukup aku kagumi.
Aku suka bertanya tentang banyak hal ke dia. Diskusi dengan media dunia virtual, dunia tak sebenarnya. Tapi intinya gara gara itu aku jadi suka sama dia. *parah*. Sejak itu aku jadi akrab sama dia, yang sebelumnya kya ga kenal. Padahal satu sekolah dan sama-sama di DKM (akhir akhir ni yang aku baca di buku buku,hal ini banyak jadi dilema antara ikhwan akhwat dalam satu komunitas). Ah, setiap kali aku bertemu atau sekedar melihatnya, talamusku bekerja. Data tentangnya diolah di pusat sensoris, dikirim ulang melalui girus singulata bersama talamus ke sistim limbik dan memunculkan sensasi cinta. Sinyal itu terkirim ke hipotalamus-ku dan membuat suatu getaran semakin terasa di hatiku. Tapi lama lama aku mulai bisa mengendalikannya. Ah, butuh waktu hampir setahun agar aku benar benar bisa mengendalikannya. Menjadikannya tidak se”liar” saat pertama kali datang di hatiku. Sebenarnya proses ini terbantu dengan keadaan yang memaksaku untuk tidak memikirkannya lagi. Ketika itu aku mulai disibukkan dengan kegiatan ku di sekolah. Mengejar prestasi akademik dan non akademik.
Kelas 3. Aku berniat untuk tidak membicarakan hal mengenai cinta. Oh, mungkin bukan tak ingin, tapi selalu tak ada kesempatan, tak ada ruang kosong di otak ku untuk hal seperti itu. Yang ada di otakku hanya obsesi mengejar cita cita. Bahkan apa yang aku tanyakan ke orang orang pun selalu berkaitan tentang cita cita ku dan cara meraihnya. Aku cari orang orang yang berkaitan dengan tujuanku dan secara frontal aku tanyakan kiat-kiatnya agar bisa sukses. *Hahaha, aku suka gayaku*. Pencarianku ternyata mempertemukanku dengan seorang mahasiswa yang kuliah di fakultas dan perguruan tinggi tujuanku. Ah betapa bahagianya aku saat itu. Aku teringat perkataan salah seorang teman *lupa siapa*, “Kalau mau jadi orang sukses, interaksinya harus sama orang sukses. Kalau mau jadi mahasiswa ITB, interaksinya juga sama nak ITB. Biar dopamin(hormon motivasi)-nya terangsang untuk bekerja lebih optimal.” Hehehe. Aku jadi semakin semangat belajar dan nyari teman yang ada di perguruan tinggi tujuanku. Tapi ternyata oh ternyata, suatu interaksi yang terlalu sering akan membuahkan suatu hubungan yang tidak biasa. Begitu banyak perhatian yang tercurah, antara aku dan dia.
Ah, lagi lagi rasa itu muncul, di dunia yang tak sebenarnya dan di tempat yang belum seharusnya ditempati di hati ini. Ketika itu aku mungkin sudah sedikit pandai menghendalikan hati ini. Ah ya, sedikit. Belum 100%. Sedikit lebih baik walau seringkali setan mencoba menggodaku. Ga kapok kapoknya dia. *HUFT*
Sampai hari ini, sebenarnya aku masih mencari apa itu cinta. Banyak buku yang menjelaskan tentang apa arti cinta. Cinta yang hakiki, cinta yang suci, cinta yang abadi. Dulu, sebelum aku benarbenar merasakan cinta itu, aku dengan mudahnya menasihati teman temanku. Bahwa cinta yang seharusnya disimpan dalam hati ini hanyalah cinta kepada Allah. Tapi kini, setiap aku mengingatkan diriku sendiri tentang hal itu, aku seringkali menganggap, “ah teori!”. Tapi ketika itu aku diingatkan oleh seorang anak sd. Ah, suatu perbincangan yang tak terduga. Menyadarkan ku bahwa inilah dunia. Yang memang penuh dengan gemilaunya. Aku harusnya sadar aku ada disini ini karena cinta juga. Cinta dari Sang Pencipta dan cinta dari kedua orang tua ku. Tanpa cinta mereka, aku ga akan punya kesempatan untuk sekedar menulis hal ini disini, hari ini, detik ini. Banyak hal sudah aku lalui dan membuatku tau akan satu hal. AKU GA AKAN BISA HIDUP TANPA CINTA.
Cinta yang bukan sekedar perkataan di mulut. Bukan juga yang terukir dalam setiap puisi puisi cinta, juga bukan seperti yang sering aku lihat di televisi, mall, taman, dan tempat tempat real lainnya. Juga bukan sekedar perhatian semu dari sang kekasih semu. Cinta ini begitu sempurna dan benar benar tak tertandingi. Tapi masalahnya kini, aku belum bisa benar benar mencintai-Nya. Aku masih seringkali disilaukan dengan gemilalunya dunia. Yang membuatku jatuh dan jatuh lagi. Tapi hal itu tak boleh melemahkanku. Aku harus bangkit dan bangkit lagi untuk yang kesekian kali. Tak ada kata menyerah untuk menumbuhkan rasa ini, karena Dia selalu mencintaiku sepanjang masa..
DIarsipkan di bawah: Ga Penting, Kisahku | Ditandai: cinta, cinta Allah, hidup, kehidupan, kisah, manusia, Pacaran, pacaran islami, PEJUANG, perjuangan, remaja


setujuh, harus tetep semangat put
——-
hho,, tentu.. ^^
Wow cinta T_T Semoga kita bisa mengendalikan frekuensinya, getaran elektrokimia di dalam apa itu namanya? talamus?
weis gaya nih putri, cerita tentang cinta
-teh iyam-
@miphz
hehe, iya.. talamus.. girus sigulata.. dst.. haha
@t’iyam
berarti putri udah gede ya teh..?
pemakaian kt2 lw bagus… gw seneng bc na~
pencarian cinta hakiki..
hah.. artikel yang cukup menohok nrul, sebenernya secara teori nurul juga sering ngomong
‘di dalam qolbu kita cukup dipenuhi cinta ama Allah..” tapi kenyataannya nurul juga gak tau sejauh mana Nurul udah mencintai Allah.. bantu ya Put!